Oleh Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd.
Khotbah
Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ
اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
وَقَالَ تَعَالَى: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ
اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١.
Ma’asyiral
muslimin, jemaah Jumat Masjid Baitul Mujahid, rahimakumullah,
Alhamdulillah,
pada siang yang penuh berkah di bulan Rajab ini, kita bisa melaksanakan ibadah salat
Jumat dengan kondisi sehat walafiyat. Dalam kesempatan ini, khatib berwasiat
kepada diri saya sendiri, dan mengajak para jemaah semua, mari kita tingkatkan iman
dan takwa kita dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan Allah
Swt.
Jemaah
Jumat, rahimakumullah,
Hari ini, Jumat 16
Januari 2026, bertepatan 27 Rajab/Rejeb
(Syakban) 1447 H, kita memperingati Isra Mi’raj, sebuah perjalanan melintasi
ruang dan waktu, menembus langit dan bumi, perjalanan dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsa, naik dari langit lapis pertama hingga Sidratul Muntaha (langit lapis 7) yang dilakukan Baginda Nabi
Muhammad Saw bersama Malaikat Jibril dengan menaiki Buraq.
Secara
bahasa, Isra Mikraj dari kata Isra (الإسراء), kata Isra berasal
dari kata asra (أسرى)
berarti (Perjalanan Malam) merujuk QS. Al-Isra ayat 1. Kata Mikraj المعراج berasal dari kata ’araja
(عرج) yang berarti naik, mendaki atau (Kenaikan
ke Langit) merujuk QS. An-Najm ayat 13-18.
Dalam
Kamus Lisan al-Arab (لسان
العرب) karya Ibnu Manzur, ada banyak istilah
perjalanan dalam lisan/bahasa bangsa Arab. Semuanya memiliki perbedaan
mendasar. Perjalan biasa di siang hari disebut Sair (سَيْر)/Nahar (نَهَار),
sedangkan Hajrah (هجرة)
yaitu perjalanan di tengah hari yang panas. Perjalanan di akhir malam disebut Ad-Duljah (الدلجة).
Ada pula Safar (سفر),
perjalan jauh meninggalkan rumah, baik siang maupun malam. Sedangkan Isra sendiri adalah perjalan di malam
hari yang penuh dengan hikmah.
Jemaah Jumat yang
berbahagia
Secara
historis, Isra Mikraj terjadi sekira tahun ke-12 kenabian Nabi Muhammad Saw,
tepatnya malam 27 Rajab pada tahun 621 M. Pada konteks saat ini, Isra Mikraj adalah
simbol pelampauan batas ruang dan waktu melalui akselerasi teknologi, di mana
kecepatan internet, konektivitas digital, dan kecerdasan artifisial (AI) kini
menjadi bukti bahwa informasi dan lompatan kognitif yang dahulu dianggap mustahil
oleh dimensi fisik manusia, tapi sekarang nyata. Kita tinggal klik dan enter,
semua tersaji, inilah perkembangan teknologi saat ini.
Peristiwa
Isra Mi’raj adalah bukti kekuasaan Allah yang melampaui nalar fisik, karena
melintasi ruang dan waktu layaknya kecepatan internet, teknologi digital dan
kecerdasan buatan seperti hari ini. Allah Swt berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ
لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci
(Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari
dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya,
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)
Jika
kita tarik ke konteks hari ini, kita hidup di era batas ruang dan waktu seolah
sirna oleh teknologi digital tanpa batas. Internet menghubungkan benua dalam
hitungan milidetik, dan Artificial Intelligence (AI) / kecerdasan buatan
/ kecerdasan artifisial mulai meniru cara berpikir manusia seperti ChatGPT, Gemini AI, Jasper, Perplexity,
dan Gen AI lain untuk membuat video, animasi, gambar, dan lainnya. Bahkan, pada
haji tahun 2024 lalu, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memanfaatkan
teknologi AI seperti Robot Manarah 2. AI di Arab digunakan untuk meningkatkan
pengalaman, keamanan, dan pengelolaan ibadah haji bagi jutaan jemaah dari
belahan dunia.
Namun,
di tengah kemajuan ini, ada satu pertanyaan besar: Apakah jiwa kita benar-benar
melakukan Mikraj (pendakian
spiritual), atau justru semakin tenggelam dalam kebisingan digital, dan semakin
jauh dari Allah Swt?
Jemaah
Jumat, rahimakumullah,
Dalam
kitab Tafsir
Al-Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, disebutkan peristiwa Isra Mi’raj
adalah bentuk tasliyah (penghiburan
/ penguatan hati) bagi Rasulullah Saw setelah mengalami Amul Huzni
(Tahun Kesedihan) kala itu. Amul Huzni ini ditandai setelah wafatnya
istri Nabi, Khadijah binti Khuwailid, dan paman Nabi Abu Thalib, serta tekanan
orang kafir Quraisy, sekira tahun ke-10 kenabian Nabi Muhammad, atau sekira
tahun 619 M.
Di
zaman sekarang, banyak dari kita mengalami kesedihan digital, kelelahan
digital, dan kecemasan digital. Mengapa? Dunia maya dan medsos melahirkan
depresi, karena rentan membandingkan hidup diri sendiri dengan orang lain, dan
kelelahan informasi karena banyaknya informasi yang simpang siur tidak jelas
sumbernya. Maka kita butuh Mikraj
pribadi, yaitu, jika internet menghubungkan kita dengan dunia, maka salat
adalah “kabel serat optik” atau menjadi “jaringan nirkabel” yang menghubungkan
ruh kita langsung dengan Allah tanpa jeda dan tanpa gangguan algoritma melalui
ibadah salat.
Jemaah
Jumat, rahimakumullah,
Pesan utama Isra Mikraj adalah ibadah salat lima
waktu. Namun, dari
berbagai literatur, turast, dan buku modern, ada beberapa indikator mundurnya
kualitas ibadah manusia era digital saat ini.
Pertama,
ibadah kurang kyusuk karena ibadah saat ini nilai sakralnya luntur, bahkan syirik
modern.
Indikator adalah sulitnya menjaga khusyuk saat beribadah karena pikiran terikat
pada notifikasi / konten medsos. Wujudnya, kita buru-buru dalam salat agar
segera mengecek ponsel/melakukan pamer ibadah (riya) demi konten, dan dari
bangun sampai tidur lagi, kita tak bisa lepas dari HP. Muncul juga syirik modern, yaitu menggantungkan
nilai diri pada trending, viralitas, FYP, dan rating, bukan pada rida Allah Swt.
Data
We Are Social, dan Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada Oktober 2025, Indonesia
adalah negara ke-4 di dunia yang paling banyak menggunakan internet, yaitu
sebanyak 230,4 juta orang, atau 80,5% dari populasi penduduk Indonesia. Wajar
saja jika hampir semua aktivitas manusia bermigrasi di dunia maya, dan
berpotensi merusak ibadah jika tidak menggunakan kaidah dan ilmu.
Dalam
Kitab
Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari menegaskan pentingnya
keikhlasan dan bahaya keterikatan hati pada dunia (termasuk validasi digital)
yang dapat mematikan cahaya iman. Medsos berbahaya ketika ruang-ruang ibadah
diekspor dan migrasi ke medsos TikTok, Facebook, Instagram, X (Twitter), dan
layanan pesan WhatsApp, maupun Messenger lain. Padahal, medsos hanya alat
memudahkan, bukan alat untuk pamer ibadah.
Kedua,
normalisasi penyakit hati (hasad dan ghibah digital). Medsos
sering menjadi ladang subur bagi penyakit hati. Indikatornya muncul rasa dengki
(hasad) saat melihat pencapaian orang lain, kemudahan melakukan ghibah
(menggunjing) dan menghina di kolom komentar. Wujudnya bisa menghujat (cyberbullying),
menyebarkan fitnah (hoax), berita palsu (fake news), ujaran kebencian (hate
speech), dan merasa rendah diri karena membandingkan hidup dengan standar
semu di semesta dunia maya.
Imam
Al-Ghazali dalam Kitab
Ihya Ulumuddin, pada Bab Bayan Ma’asyil Lisan (Bahaya Lisan) dan Bab
Al-Muhlikat (Hal-hal yang Membinasakan), menjelaskan lisan sangat
menentukan keselamatan manusia karena rentan melakukan ghibah, fitnah, berdebat
dan bertengkar, sumpah palsu, mongolok-olok dan memuji diri sendiri berlebihan.
Maka di era sekarang, lisan telah bertransformasi menjadi jempol yang berbahasa
di medsos, sehingga muncul pameo “jempolmu harimaumu” sebagai pergeseran dari
“mulutmu harimaumu”.
Ketiga,
hedonisme, materialisme, dan tabarruj digital. Algoritma
digital sering kali mendorong manusia untuk menjadi konsumtif dan memuja materi
secara berlebihan, sehingga melupakan tujuan akhirat. Maka wajar jika banyak
umat Islam pamer kekayaan, harta, bahkan aurat demi keuntungan materiil belaka.
Dalam
Kitab
Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengajak umat Islam agar etika kehidupan
sehari-hari seorang hamba harus tetap dijaga dari godaan dunia yang melalaikan
termasuk di media sosial.
Keempat, krisis
otoritas keagamaan dan “kebenaran”. Di era digital,
siapapun bisa berbicara atas nama agama tanpa sanad ilmu jelas. Wujudnya, umat
Islam mengikuti fatwa instan tak kredibel, skeptisisme terhadap ulama yang
lurus, dan kecenderungan beragama secara superfisial (hanya kulitnya saja).
Maka wajar jika tahun 2017, Prof Tom Nichols' menulis buku The Death of
Expertise (Matinya Kepakaran), karena pakar-pakar, ahli, ilmuwan, kiai,
akademisi, dikalahkan oleh Content Creator, Youtuber, Influencer, Selebgram,
bahkan AI.
Padahal,
Syekh Az-Zarnuji dalam Kitab
Ta’limul Muta’allim menekankan pentingnya memilih sumber ilmu dan guru yan bertakwa
dan berhati-hati (al-wara'), yang
paling alim (al-a'lam), dan lebih tua
usianya (al-asanna), bukan justru berkiblat
pada medsos, kecuali sumber otoritatif yang sudah tervalidasi yang dishare
melalui medsos.
Jemaah
Jumat rahimakumullah,
Isra
Mi’raj memberi pesan penting untuk menguatkan kualitas iman, takwa, dan ibadah
kita era digital. Pertama, perlunya reorientasi tauhid di era digital. Kita
harus menggunakan teknologi sebagai wasilah ibadah, alat membantu/asisten bukan
sesembahan baru.
Kedua,
pentingnya adab sebelum ilmu. Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam
Kitab At-Tibyan
fi Adabi Hamalatil Qur’an menegaskan pembawa ilmu, bisa kiai, ustaz,
penceramah, khatib, dosen, guru, pendidik, wajib menjaga etika lisan dan
perilaku, termasuk di ruang digital. Seperti Pepatah Arab: سلامة الإنسان في حفظ اللسان
Artinya:
“Keselamatan manusia terletak dalam
menjaga lisannya.” Hari ini, kita harus menjaga lisan dan jempol di media
sosial.
Ketiga,
melawan hedonisme, riya, dan tabarruj digital. Ibnu
Hajar Al-Haitami dalam Kitab Ar-Zawajir
An Iktiraf Al-Kabair mengingatkan riya dan kesombongan dalam ibadah dapat
merusak amal, termasuk dalam hal ini adalah riya melalui media sosial.
Keempat,
keadilan ekonomi Islam digital. Mari kita hindari riba, judi online, slot online, dan transaksi haram lainnya sebagaimana diperingatkan Syekh
Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in
syarah Qurratul Ain yang melarang riba, judi (Al-Maisir/Al-Qimar). Seperti Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah
ayat 275:
اَلَّذِيْنَ
يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ
يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا
الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ
“Orang-orang
yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti
orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi
karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).
Kelima, kita perlu
melaksanakan puasa digital dan literasi AI dengan Islami, yaitu
mengatur waktu penggunaan HP, menggunakan medsos dan AI untuk memperkuat ilmu,
sarana ibadah, dakwah, dan kemaslahatan umat, bukan untuk maksiat, dan pamer
ibadah. Tujuannya agar kemajuan teknologi menjadi jalan mikraj menuju rida
Allah Swt..
Jemaah Jumat
rahimakumullah
Isra
Mikraj mengajarkan kepada kita, kemuliaan manusia bukan ditentukan seberapa
tinggi ia melesat dalam kemajuan teknologi, jabatan, popularitas, tetapi sejauh
mana orang Islam mampu menaikkan kualitas iman, salat, dan ketundukan kepada
Allah Swt.
Di
tengah dunia serba cepat, instan, dan dipenuhi kecerdasan buatan, Isra Mikraj
mengingatkan salat adalah mikrajnya orang beriman, jalan sunyi yang mengangkat
ruh kita dari hiruk-pikuk dunia menuju hadirat Ilahi. Teknologi, medsos, AI,
hanyalah alat, bukan “Tuhan” baru yang disembuh dan diagung-agungkan.
Mari
kita jadikan peringatan Isra Mikraj sebagai titik balik memperbaiki salat,
membersihkan hati, mengendalikan teknologi dengan tauhid, dan menata kehidupan
agar makin dekat dengan Allah Swt., sehingga kemajuan zaman tak menjauhkan kita
dari-Nya, tetapi mengantarkan kita menuju keselamatan dunia dan akhirat. Amin
Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، ثُمَّ
الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِيْ لَا
نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ
أَسْرَارِ الْمُحِبِّينَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ
الْمُرْسَلِيْن،َ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ،
أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ
يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ
اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي
اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
.jpg)
0 komentar:
Post a Comment