Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Thursday, 15 January 2026

Isra Mikraj Di Era Kecerdasan Buatan


Oleh Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd.

 

Khotbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ

 وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه،

 اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١.

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat Masjid Baitul Mujahid, rahimakumullah,

Alhamdulillah, pada siang yang penuh berkah di bulan Rajab ini, kita bisa melaksanakan ibadah salat Jumat dengan kondisi sehat walafiyat. Dalam kesempatan ini, khatib berwasiat kepada diri saya sendiri, dan mengajak para jemaah semua, mari kita tingkatkan iman dan takwa kita dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.

Jemaah Jumat, rahimakumullah,

Hari ini, Jumat 16 Januari 2026, bertepatan 27 Rajab/Rejeb (Syakban) 1447 H, kita memperingati Isra Mi’raj, sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu, menembus langit dan bumi, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, naik dari langit lapis pertama hingga Sidratul Muntaha (langit lapis 7) yang dilakukan Baginda Nabi Muhammad Saw bersama Malaikat Jibril dengan menaiki Buraq.

Secara bahasa, Isra Mikraj dari kata Isra (الإسراء), kata Isra berasal dari kata asra (أسرى) berarti (Perjalanan Malam) merujuk QS. Al-Isra ayat 1. Kata Mikraj المعراج berasal dari kata araja (عرج) yang berarti naik, mendaki atau (Kenaikan ke Langit) merujuk QS. An-Najm ayat 13-18.

Dalam Kamus Lisan al-Arab (لسان العرب) karya Ibnu Manzur, ada banyak istilah perjalanan dalam lisan/bahasa bangsa Arab. Semuanya memiliki perbedaan mendasar. Perjalan biasa di siang hari disebut Sair (سَيْر)/Nahar (نَهَار), sedangkan Hajrah (هجرة) yaitu perjalanan di tengah hari yang panas. Perjalanan di akhir malam disebut Ad-Duljah (الدلجة). Ada pula Safar (سفر), perjalan jauh meninggalkan rumah, baik siang maupun malam. Sedangkan Isra sendiri adalah perjalan di malam hari yang penuh dengan hikmah.

Jemaah Jumat yang berbahagia

Secara historis, Isra Mikraj terjadi sekira tahun ke-12 kenabian Nabi Muhammad Saw, tepatnya malam 27 Rajab pada tahun 621 M. Pada konteks saat ini, Isra Mikraj adalah simbol pelampauan batas ruang dan waktu melalui akselerasi teknologi, di mana kecepatan internet, konektivitas digital, dan kecerdasan artifisial (AI) kini menjadi bukti bahwa informasi dan lompatan kognitif yang dahulu dianggap mustahil oleh dimensi fisik manusia, tapi sekarang nyata. Kita tinggal klik dan enter, semua tersaji, inilah perkembangan teknologi saat ini.

Peristiwa Isra Mi’raj adalah bukti kekuasaan Allah yang melampaui nalar fisik, karena melintasi ruang dan waktu layaknya kecepatan internet, teknologi digital dan kecerdasan buatan seperti hari ini. Allah Swt berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

 

Jika kita tarik ke konteks hari ini, kita hidup di era batas ruang dan waktu seolah sirna oleh teknologi digital tanpa batas. Internet menghubungkan benua dalam hitungan milidetik, dan Artificial Intelligence (AI) / kecerdasan buatan / kecerdasan artifisial mulai meniru cara berpikir manusia seperti ChatGPT, Gemini AI, Jasper, Perplexity, dan Gen AI lain untuk membuat video, animasi, gambar, dan lainnya. Bahkan, pada haji tahun 2024 lalu, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memanfaatkan teknologi AI seperti Robot Manarah 2. AI di Arab digunakan untuk meningkatkan pengalaman, keamanan, dan pengelolaan ibadah haji bagi jutaan jemaah dari belahan dunia.

 

Namun, di tengah kemajuan ini, ada satu pertanyaan besar: Apakah jiwa kita benar-benar melakukan Mikraj (pendakian spiritual), atau justru semakin tenggelam dalam kebisingan digital, dan semakin jauh dari Allah Swt?

 

Jemaah Jumat, rahimakumullah,

Dalam kitab Tafsir Al-Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili, disebutkan peristiwa Isra Mi’raj adalah bentuk tasliyah (penghiburan  / penguatan hati) bagi Rasulullah Saw setelah mengalami Amul Huzni (Tahun Kesedihan) kala itu. Amul Huzni ini ditandai setelah wafatnya istri Nabi, Khadijah binti Khuwailid, dan paman Nabi Abu Thalib, serta tekanan orang kafir Quraisy, sekira tahun ke-10 kenabian Nabi Muhammad, atau sekira tahun 619 M.

 

Di zaman sekarang, banyak dari kita mengalami kesedihan digital, kelelahan digital, dan kecemasan digital. Mengapa? Dunia maya dan medsos melahirkan depresi, karena rentan membandingkan hidup diri sendiri dengan orang lain, dan kelelahan informasi karena banyaknya informasi yang simpang siur tidak jelas sumbernya. Maka kita butuh Mikraj pribadi, yaitu, jika internet menghubungkan kita dengan dunia, maka salat adalah “kabel serat optik” atau menjadi “jaringan nirkabel” yang menghubungkan ruh kita langsung dengan Allah tanpa jeda dan tanpa gangguan algoritma melalui ibadah salat.

 

Jemaah Jumat, rahimakumullah,

Pesan utama Isra Mikraj adalah ibadah salat lima waktu. Namun, dari berbagai literatur, turast, dan buku modern, ada beberapa indikator mundurnya kualitas ibadah manusia era digital saat ini.

 

Pertama, ibadah kurang kyusuk karena ibadah saat ini nilai sakralnya luntur, bahkan syirik modern. Indikator adalah sulitnya menjaga khusyuk saat beribadah karena pikiran terikat pada notifikasi / konten medsos. Wujudnya, kita buru-buru dalam salat agar segera mengecek ponsel/melakukan pamer ibadah (riya) demi konten, dan dari bangun sampai tidur lagi, kita tak bisa lepas dari HP. Muncul juga syirik modern, yaitu menggantungkan nilai diri pada trending, viralitas, FYP, dan rating, bukan pada rida Allah Swt.

Data We Are Social, dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada Oktober 2025, Indonesia adalah negara ke-4 di dunia yang paling banyak menggunakan internet, yaitu sebanyak 230,4 juta orang, atau 80,5% dari populasi penduduk Indonesia. Wajar saja jika hampir semua aktivitas manusia bermigrasi di dunia maya, dan berpotensi merusak ibadah jika tidak menggunakan kaidah dan ilmu.

 

Dalam Kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari menegaskan pentingnya keikhlasan dan bahaya keterikatan hati pada dunia (termasuk validasi digital) yang dapat mematikan cahaya iman. Medsos berbahaya ketika ruang-ruang ibadah diekspor dan migrasi ke medsos TikTok, Facebook, Instagram, X (Twitter), dan layanan pesan WhatsApp, maupun Messenger lain. Padahal, medsos hanya alat memudahkan, bukan alat untuk pamer ibadah.

 

Kedua, normalisasi penyakit hati (hasad dan ghibah digital). Medsos sering menjadi ladang subur bagi penyakit hati. Indikatornya muncul rasa dengki (hasad) saat melihat pencapaian orang lain, kemudahan melakukan ghibah (menggunjing) dan menghina di kolom komentar. Wujudnya bisa menghujat (cyberbullying), menyebarkan fitnah (hoax), berita palsu (fake news), ujaran kebencian (hate speech), dan merasa rendah diri karena membandingkan hidup dengan standar semu di semesta dunia maya.

 

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin, pada Bab Bayan Ma’asyil Lisan (Bahaya Lisan) dan Bab Al-Muhlikat (Hal-hal yang Membinasakan), menjelaskan lisan sangat menentukan keselamatan manusia karena rentan melakukan ghibah, fitnah, berdebat dan bertengkar, sumpah palsu, mongolok-olok dan memuji diri sendiri berlebihan. Maka di era sekarang, lisan telah bertransformasi menjadi jempol yang berbahasa di medsos, sehingga muncul pameo “jempolmu harimaumu” sebagai pergeseran dari “mulutmu harimaumu”.

 

Ketiga, hedonisme, materialisme, dan tabarruj digital. Algoritma digital sering kali mendorong manusia untuk menjadi konsumtif dan memuja materi secara berlebihan, sehingga melupakan tujuan akhirat. Maka wajar jika banyak umat Islam pamer kekayaan, harta, bahkan aurat demi keuntungan materiil belaka.

 

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengajak umat Islam agar etika kehidupan sehari-hari seorang hamba harus tetap dijaga dari godaan dunia yang melalaikan termasuk di media sosial.

 

Keempat, krisis otoritas keagamaan dan “kebenaran”. Di era digital, siapapun bisa berbicara atas nama agama tanpa sanad ilmu jelas. Wujudnya, umat Islam mengikuti fatwa instan tak kredibel, skeptisisme terhadap ulama yang lurus, dan kecenderungan beragama secara superfisial (hanya kulitnya saja). Maka wajar jika tahun 2017, Prof Tom Nichols' menulis buku The Death of Expertise (Matinya Kepakaran), karena pakar-pakar, ahli, ilmuwan, kiai, akademisi, dikalahkan oleh Content Creator, Youtuber, Influencer, Selebgram, bahkan AI.

 

Padahal, Syekh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim menekankan pentingnya memilih sumber ilmu dan guru yan bertakwa dan berhati-hati (al-wara'), yang paling alim (al-a'lam), dan lebih tua usianya (al-asanna), bukan justru berkiblat pada medsos, kecuali sumber otoritatif yang sudah tervalidasi yang dishare melalui medsos.

 

 

 

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Isra Mi’raj memberi pesan penting untuk menguatkan kualitas iman, takwa, dan ibadah kita era digital. Pertama, perlunya reorientasi tauhid di era digital. Kita harus menggunakan teknologi sebagai wasilah ibadah, alat membantu/asisten bukan sesembahan baru.

 

Kedua, pentingnya adab sebelum ilmu. Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menegaskan pembawa ilmu, bisa kiai, ustaz, penceramah, khatib, dosen, guru, pendidik, wajib menjaga etika lisan dan perilaku, termasuk di ruang digital. Seperti Pepatah Arab:  سلامة الإنسان في حفظ اللسان

Artinya: “Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisannya.” Hari ini, kita harus menjaga lisan dan jempol di media sosial.

 

Ketiga, melawan hedonisme, riya, dan tabarruj digital. Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Kitab Ar-Zawajir An Iktiraf Al-Kabair mengingatkan riya dan kesombongan dalam ibadah dapat merusak amal, termasuk dalam hal ini adalah riya melalui media sosial.

 

Keempat, keadilan ekonomi Islam digital. Mari kita hindari riba, judi online, slot online, dan transaksi haram lainnya sebagaimana diperingatkan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in syarah Qurratul Ain yang melarang riba, judi (Al-Maisir/Al-Qimar). Seperti Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 275:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ

 ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).

 

Kelima, kita perlu melaksanakan puasa digital dan literasi AI dengan Islami, yaitu mengatur waktu penggunaan HP, menggunakan medsos dan AI untuk memperkuat ilmu, sarana ibadah, dakwah, dan kemaslahatan umat, bukan untuk maksiat, dan pamer ibadah. Tujuannya agar kemajuan teknologi menjadi jalan mikraj menuju rida Allah Swt..

 

Jemaah Jumat rahimakumullah

Isra Mikraj mengajarkan kepada kita, kemuliaan manusia bukan ditentukan seberapa tinggi ia melesat dalam kemajuan teknologi, jabatan, popularitas, tetapi sejauh mana orang Islam mampu menaikkan kualitas iman, salat, dan ketundukan kepada Allah Swt.

 

Di tengah dunia serba cepat, instan, dan dipenuhi kecerdasan buatan, Isra Mikraj mengingatkan salat adalah mikrajnya orang beriman, jalan sunyi yang mengangkat ruh kita dari hiruk-pikuk dunia menuju hadirat Ilahi. Teknologi, medsos, AI, hanyalah alat, bukan “Tuhan” baru yang disembuh dan diagung-agungkan.

 

Mari kita jadikan peringatan Isra Mikraj sebagai titik balik memperbaiki salat, membersihkan hati, mengendalikan teknologi dengan tauhid, dan menata kehidupan agar makin dekat dengan Allah Swt., sehingga kemajuan zaman tak menjauhkan kita dari-Nya, tetapi mengantarkan kita menuju keselamatan dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ،  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّينَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْن،َ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ، أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ

يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

 عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Isra Mikraj Di Era Kecerdasan Buatan Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda