TEMANGGUNG, Hamidullohibda.com – Kiprah akademik Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., kembali mendapat pengakuan nasional. Untuk kedua kalinya secara berturut-turut, ia didaulat menjadi reviewer substansi proposal penelitian di lingkungan Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC) pada Tahun Anggaran 2026.
Sebelumnya,
Ibda didaulat menjadi reviewer tahun 2025. Tahap pertama, reviewer dilakukan melalui aplikasi
Litapdimas secara online, dengan penekanan pada substansi proposal.
Selanjutnya, pada Rabu, 4 Juni 2025, dilakukan tahap kedua berupa presentasi
seminar secara daring oleh para pengusul proposal. Kemudian pada Rabu
hingga Jumat, 10–12 Desember 2025, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Seminar Hasil
Penelitian Tahun Anggaran 2025.
Untuk
tahun 2026, Hamidulloh Ibda kembali didapuk ulang. Penugasan tersebut tertuang
dalam surat resmi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
(LP2M) UIN SSC bernomor 162/Un.30/L.I/HM.01/02/2026 tertanggal 27 Februari
2026. Dalam surat itu, Dr. Hamidulloh Ibda diminta untuk melakukan review
substansi proposal penelitian secara daring melalui sistem Litapdimas
Kementerian Agama RI.
Ketua
LP2M UIN SSC, Faqiuddin Abdul Kodir, dalam suratnya menegaskan bahwa proses
review dilakukan secara objektif dan profesional dalam rentang waktu 2–10 Maret
2026. Keterlibatan Dr. Ibda menunjukkan kepercayaan institusi terhadap
kapasitas akademik dan integritasnya sebagai penilai penelitian.
Menurut
Ibda, menjadi reviewer penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan
Islam Negeri (PTKIN) bukan sekadar tugas administratif, melainkan peran
strategis dalam menjaga mutu riset nasional. Reviewer bertanggung jawab menilai
kelayakan proposal, kebaruan (novelty), metodologi, hingga kontribusi ilmiah
yang dihasilkan.
“Pada
tahun ini, terdapat sejumlah proposal yang harus ditelaah, mencakup beragam
bidang seperti kesiapan digital mahasiswa berbasis DigComp, pengembangan
cybercounseling, deep learning untuk klasifikasi sampah, hingga ekoteologi
berbasis kearifan lokal. Keragaman tema tersebut menuntut reviewer memiliki
wawasan multidisipliner,” katanya.
Dalam
konteks ini, pengalaman Dr. Hamidulloh Ibda sebagai akademisi di bidang
pendidikan Islam, literasi, dan inovasi pendidikan menjadi nilai tambah
tersendiri. Ia dikenal aktif dalam riset pendidikan, pengembangan kurikulum, hingga
literasi digital di lingkungan madrasah dan perguruan tinggi.
Penunjukan
selama dua tahun berturut-turut menunjukkan konsistensi reputasi akademik yang
dibangun. Tidak semua akademisi mendapatkan kesempatan tersebut, karena proses
seleksi reviewer biasanya mempertimbangkan rekam jejak publikasi, pengalaman
penelitian, serta kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Sebagai
Rektor INISNU Temanggung, Dr. Ibda juga dinilai mampu menjembatani antara dunia
akademik dan praktik pendidikan di lapangan. Hal ini penting, terutama dalam
menilai proposal yang tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga aplikatif
dan berdampak bagi masyarakat.
Keterlibatan
pimpinan kampus dalam forum akademik nasional memberikan efek domino positif
bagi institusi. Selain meningkatkan reputasi INISNU di tingkat nasional, hal
ini juga membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran akademik, serta
peningkatan kualitas penelitian internal.
Lebih
jauh, posisi sebagai reviewer memberi akses terhadap tren riset terkini, yang dapat
diadopsi dan dikembangkan di lingkungan kampus. Dengan demikian, INISNU tidak
hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen pengetahuan yang relevan
dengan kebutuhan zaman.
Dengan
kembali dipercaya sebagai reviewer UIN SSC, Dr. Hamidulloh Ibda menegaskan
komitmennya dalam menjaga kualitas penelitian di Indonesia, khususnya di bawah
naungan Kementerian Agama. Peran ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam
membangun ekosistem riset yang kredibel, inovatif, dan berdampak luas.
“Penugasan
ini sekaligus memperlihatkan bahwa akademisi dari INISNU Temanggung memiliki
peluang yang sama untuk berkiprah di level nasional, selama mampu menjaga
kualitas, integritas, dan produktivitas ilmiah secara konsisten,” kata Ibda.
(*)


0 komentar:
Post a Comment