Kendal, Hamidullohibda.com – Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Analisis Kebutuhan Pengembangan SEPESIAL (Senam Pencak Silat Astacita Bermuatan Kearifan Lokal Kendal) yang digelar di Rumah Pring Jagad, Sukodono, Kendal, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi komunitas budaya dan olahraga di Kabupaten Kendal tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Muhammad Ilyas, S.H., M.H. selaku Penasihat Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kendal dan Novita Novhee, instruktur senam sekaligus pimpinan IOSKI Kendal.
Forum ini bertujuan merumuskan konsep pengembangan senam pencak silat yang tidak hanya berorientasi pada kebugaran, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya dan pendidikan karakter.
Dalam paparannya, Hamidulloh Ibda menjelaskan bahwa pengembangan SEPESIAL dirancang menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) model ADDIE yang diawali dengan analisis kebutuhan gerakan pencak silat yang aman bagi peserta didik, kebutuhan pendidikan karakter, kearifan lokal Kendal, kebutuhan sekolah terhadap media pembelajaran berbasis gerak, hingga kebutuhan kebijakan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.
Menurutnya, pencak silat memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karakter karena mengandung nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, ketangguhan, dan penghormatan terhadap budaya bangsa. Karena itu, pengembangan senam yang mengadaptasi gerakan pencak silat perlu dirancang secara sistematis agar sesuai dengan usia peserta didik dan kebutuhan pendidikan masa kini.
“SEPESIAL bukan sekadar aktivitas olahraga atau senam kebugaran. Konsep ini diarahkan menjadi model pendidikan karakter berbasis budaya lokal Kendal yang mengintegrasikan nilai pencak silat, kearifan lokal, Profil Lulusan, Panca Cinta Madrasah, serta cita-cita pembangunan karakter bangsa melalui aktivitas fisik yang menyenangkan dan mudah diterapkan di sekolah maupun madrasah,” jelasnya.
Hamidulloh juga memaparkan berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Tari SEPESIAL, mulai dari desain metode, alur pengembangan, muatan pendidikan karakter, hingga unsur estetika yang mencakup wiraga, wirama, wirasa, dan wirupa. Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, praktisi pencak silat, instruktur senam, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan agar produk yang dihasilkan benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Muhammad Ilyas menilai integrasi pencak silat ke dalam media pendidikan karakter merupakan langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan bangsa.
Senada dengan itu, Novita Novhee menegaskan bahwa pengemasan gerakan dalam bentuk senam dan tari akan membuat nilai-nilai pencak silat lebih mudah diterima oleh peserta didik dan masyarakat luas melalui konsep wiraga, wirasa, wirama, dan wirupa.
Melalui FGD tersebut, para peserta menyepakati pentingnya pengembangan SEPESIAL sebagai inovasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Kendal. Hasil diskusi akan menjadi dasar penyusunan model, gerakan, dan implementasi program yang diharapkan dapat diterapkan di sekolah, madrasah, serta berbagai komunitas pendidikan dan budaya di Kabupaten Kendal.
Kegiatan berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta yang berasal dari unsur pendidikan, seni, budaya, dan olahraga. FGD ini menjadi langkah awal menuju lahirnya model Senam Pencak Silat Astacita yang tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga memperkuat karakter generasi muda Indonesia. (*)


0 komentar:
Post a Comment