Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Friday, 4 September 2026

Hamidulloh Ibda Bagikan Tips Penggunaan AI sebagai Tools, Bukan sebagai Pengganti Guru dan Dosen


PEKALONGAN, Hamidullohibda.com
— Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Teknologi kini tidak hanya mampu membantu mencari informasi, tetapi juga dapat menulis, menjelaskan materi, membuat latihan, memberikan umpan balik, hingga membantu proses asesmen.


Namun, kemudahan tersebut tidak semestinya membuat guru dan dosen menyerahkan fungsi pendidikan kepada mesin. Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai tools atau alat bantu untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan sebagai pengganti guru maupun dosen.


Hal itu disampaikan Hamidulloh Ibda saat menjadi narasumber Webinar Pendidikan yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jumat (4/9/2026). Webinar mengangkat tema “AI Bisa Menulis, Mengajar, dan Menilai—Lalu Apa yang Tersisa dari Etika Pendidikan?”. Kegiatan digelar secara daring melalui Zoom bersama narasumber lain yaitu Dr. Hj. Musarifah, M.S.I.


Dalam paparannya, Ibda memperkenalkan konsep Artificial Intelligence in Education (AIEd) sebagai penerapan kecerdasan buatan untuk mendukung, meningkatkan, dan mentransformasi proses pembelajaran, pengajaran, asesmen, penelitian, serta pengelolaan pendidikan.


Menurutnya, AIEd bukanlah proyek untuk menggantikan manusia dengan mesin. Justru, teknologi harus digunakan untuk memperkuat kapasitas pendidik dengan tetap mempertahankan kendali, nilai, etika, dan tanggung jawab manusia.

“AIEd bukan mengganti guru atau dosen dengan AI, tetapi memperkuat kapasitas manusia melalui AI dengan tetap mempertahankan kendali, nilai, etika, dan tanggung jawab pendidik.”


Dr. Ibda mengakui bahwa kemampuan AI berkembang sangat cepat. AI saat ini sudah mampu menjelaskan materi, memberikan umpan balik, menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan peserta didik, membuat latihan, merangkum materi, bahkan membantu melakukan asesmen awal.


Kemampuan tersebut menjadikan AI sangat potensial untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran. AI, misalnya, dapat mengambil alih pekerjaan repetitif yang selama ini menyita waktu guru dan dosen. Dengan demikian, pendidik dapat mengalokasikan lebih banyak energi untuk pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, interaksi sosial, dan sentuhan manusia. Namun, menurut Ibda, ada batas penting yang tidak boleh diabaikan. Guru dan dosen memiliki keunggulan yang tidak dimiliki AI, terutama dalam membangun relasi, menghadirkan empati, memberikan keteladanan, membangun motivasi, serta menanamkan karakter, nilai, etika, dan tanggung jawab.



“Mengajar bukan hanya transfer pengetahuan. Pendidikan juga merupakan proses membentuk karakter, nilai, etika, dan tanggung jawab,” demikian gagasan utama yang ditekankan dalam materinya.


Karena itu, pertanyaan yang tepat bukan sekadar apakah AI dapat menggantikan guru atau dosen. Pertanyaan yang lebih penting adalah guru dan dosen seperti apa yang mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih manusiawi?


Ibda juga mengajak pendidik tidak mengambil posisi ekstrem, baik menolak maupun menerima AI secara membabi buta.

Menolak AI karena takut pekerjaan manusia tergantikan, menurutnya, merupakan salah satu respons yang perlu dikritisi. Sebaliknya, menerima AI tanpa tata kelola juga dapat melahirkan persoalan baru, mulai dari ketergantungan teknologi, penurunan kemampuan berpikir kritis, persoalan privasi, bias algoritma, hingga hilangnya otonomi manusia.


Pendekatan yang lebih tepat adalah augmentasi, yaitu memanfaatkan AI sebagai mitra untuk mempercepat dan memperluas kemampuan manusia. Tugas-tugas rutin dan repetitif dapat dibantu AI, sementara keputusan yang menyangkut nilai, etika, karakter, dan arah pendidikan tetap berada di tangan manusia.


“Risiko terbesar bukan AI menggantikan guru, tetapi guru yang tidak mampu beradaptasi dengan AI akan tertinggal,” tegas Ibda dalam materinya.


AI sebagai “Babu Akademik”

Salah satu gagasan menarik yang ditawarkan Ibda adalah menjadikan AI sebagai “babu akademik”. Istilah tersebut bukan untuk merendahkan teknologi, tetapi justru untuk menegaskan posisi AI dalam ekosistem akademik: AI bekerja membantu manusia, bukan manusia yang tunduk kepada AI.


Dalam konteks pendidikan, AI dapat digunakan untuk membantu mengoptimalkan pekerjaan, melakukan tugas repetitif, mendukung personalisasi pembelajaran berbasis data, membantu penelitian, hingga mempercepat berbagai pekerjaan administratif.


Namun, manusia tetap menjadi pengarah etika dan kompas moral. Pengajar juga mengalami pergeseran peran, dari sekadar transmiter pengetahuan menjadi fasilitator pembelajaran.


“AI sebagai asisten, manusia sebagai penentu nilai,” menjadi salah satu prinsip utama yang ditawarkan Ibda untuk membaca masa depan pendidikan.


Tidak hanya berbicara mengenai pemanfaatan AI oleh guru dan dosen, Ibda juga memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan AI oleh mahasiswa.


Ia menekankan bahwa penggunaan AI dalam dunia akademik harus tetap berada dalam koridor integritas akademik.

Mahasiswa boleh menggunakan AI untuk mencari ide atau topik, memahami materi, melakukan brainstorming, memperbaiki bahasa, membuat kerangka tulisan, membantu coding atau analisis, mencari referensi awal, melakukan parafrase, maupun membantu menyusun tugas.


Akan tetapi, penggunaan tersebut memiliki batas. Ide dari AI tidak boleh begitu saja diakui sebagai hasil pemikiran pribadi. AI tidak boleh menggantikan proses belajar dan berpikir mahasiswa. Tulisan yang dibantu AI tetap harus dianalisis, dikembangkan, dan dipertanggungjawabkan oleh mahasiswa.


Untuk penelitian, mahasiswa wajib memahami, memeriksa, dan menguji hasil yang diberikan AI. Bahkan untuk referensi, mahasiswa tidak boleh menggunakan atau mencantumkan sumber yang belum diverifikasi keberadaannya.


Yang paling penting, penggunaan AI tidak boleh berujung pada plagiasi. Menyalin keluaran AI, melakukan parafrase tanpa atribusi, atau mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri tetap merupakan persoalan integritas akademik.


Dengan kata lain, AI boleh membantu proses produksi karya akademik, tetapi tidak boleh menggantikan kepengarangan, argumentasi, analisis, dan tanggung jawab akademik mahasiswa.


Ibda melihat transformasi AI sebagai momentum untuk mendefinisikan kembali profesi guru dan dosen. Jika dahulu guru dan dosen menjadi sumber utama pengetahuan, perkembangan AI akan mengubah posisi tersebut. Peserta didik dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber digital dan sistem AI secara cepat.


Dalam proyeksi dunia pendidikan ke depan, fungsi guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan maupun penguji akademis diperkirakan semakin berkurang. Sebaliknya, peran guru akan bergerak menjadi pendamping moral, fasilitator sosial, dan pengarah proses belajar.


Pergeseran ini tidak berarti profesi guru kehilangan relevansi. Justru sebaliknya, aspek manusiawi pendidikan menjadi semakin penting.


Ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, manusia justru harus semakin kuat dalam mengajukan pertanyaan yang bermakna, mengambil keputusan etis, membangun empati, dan menjadi teladan.


Karena itu, masa depan pendidikan menurut Ibda bukan pertarungan antara manusia melawan AI, melainkan kolaborasi manusia dan AI.


AI memiliki kecepatan, kapasitas pengolahan informasi, dan kemampuan otomatisasi. Sementara manusia memiliki pengalaman, empati, moralitas, nilai, kreativitas, dan tanggung jawab.


Dalam konteks organisasi sarjana Nahdlatul Ulama, Ibda juga mendorong ISNU mengambil peran strategis dalam menghadapi transformasi AI.


Menurut materi yang disampaikannya, setidaknya terdapat empat peran penting yang dapat dilakukan ISNU, yakni memahami cara kerja AI, mengembangkan AI yang etis dan adil, memanfaatkan AI secara positif, serta menjadi pendorong transformasi digital.


Peran tersebut menjadi penting karena transformasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi. Masyarakat pendidikan juga membutuhkan literasi etis agar teknologi tidak menghilangkan nilai kemanusiaan.


Bagi perguruan tinggi, persoalannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke ruang kelas. AI sudah hadir dan akan terus berkembang. Tantangannya adalah bagaimana kampus membangun ekosistem yang memungkinkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan menggunakan AI secara produktif sekaligus bertanggung jawab.


Ibda menilai AIEd membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang harus diantisipasi. Dengan pemahaman dan penggunaan yang bijak, AI dapat dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan tanpa menjadikan manusia kehilangan kendali atas proses pendidikan.


Pada akhirnya, teknologi seharusnya tidak membuat pendidikan kehilangan wajah manusianya. AI boleh semakin pintar, tetapi guru dan dosen harus tetap menjadi manusia yang mendidik, memberi teladan, menentukan nilai, dan bertanggung jawab atas masa depan peserta didik.


Dengan prinsip sederhana tersebut, AI bukan menjadi pengganti guru dan dosen, melainkan menjadi alat yang bekerja di belakang layar untuk membuat kerja akademik lebih efektif, pembelajaran lebih personal, dan pendidikan tetap berpusat pada manusia. (*)


Next
This is the most recent post.
Older Post
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Hamidulloh Ibda Bagikan Tips Penggunaan AI sebagai Tools, Bukan sebagai Pengganti Guru dan Dosen Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda