Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Wednesday, 9 September 2026

Hamidulloh Ibda Jadi Narasumber Kuliah Umum INISNU Temanggung


Temanggung, Hamidullohibda.com
– Rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) INISNU Temanggung diisi dengan kuliah umum yang membekali mahasiswa baru dengan perspektif tentang tantangan era digital, pembentukan karakter, kompetensi masa depan, hingga strategi membangun karier dan kontribusi sosial.


Kuliah umum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Mahsun, M.S.I. dengan materi “Karakter Mahasiswa INISNU Temanggung di Era Digital” dan Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. dengan materi “Peran INISNU dalam Menyiapkan Lulusan Kompetitif-Kolaboratif”. Kegiatan dimoderatori Nashih Muhammad, S.H.I., M.H., Ketua Program Studi S1 Hukum Keluarga Islam (HKI) INISNU Temanggung.


Di hadapan mahasiswa baru, kedua narasumber menempatkan masa awal perkuliahan bukan sekadar fase adaptasi terhadap kampus, tetapi sebagai momentum untuk membangun identitas akademik, karakter, kompetensi, jejaring, dan orientasi kontribusi sejak dini.


Dr. H. Mahsun, M.S.I. mengajak mahasiswa baru memahami lanskap digital yang berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI), derasnya arus informasi, hoaks, ujaran kebencian, hingga kecanduan media sosial menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan kecakapan sekaligus karakter.


Dalam materinya, Mahsun menegaskan bahwa teknologi tidak boleh kehilangan kendali nilai. Prinsip yang ditekankan adalah “Teknologi harus dikendalikan oleh nilai, bukan menggantikan nilai.”


Karena itu, mahasiswa INISNU diarahkan menjadi insan akademik yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak, bertradisi, dan berdampak. Mereka diharapkan menjadi pribadi religius dan berintegritas, kader muda NU yang moderat, mencintai bangsa dan budaya lokal, pembelajar sepanjang hayat, serta penggerak perubahan yang bermanfaat.


Mahsun juga memperkenalkan delapan fondasi karakter yang perlu dikembangkan mahasiswa dalam bertumbuh bersama teknologi, yakni religius dan integritas, literat digital, kritis dan kreatif, adaptif, humanis dan empatik, kolaboratif, produktif, serta berakar lokal. Karakter yang kuat menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara bijak, bukan justru mengendalikan manusia.


Nilai Aswaja Annahdliyah menjadi kompas dalam menghadapi perkembangan tersebut. Mahasiswa diarahkan untuk menghidupkan prinsip tawassuth, tawazun, i’tidal, tasamuh, amar ma’ruf nahi munkar, dan maslahah dalam kehidupan akademik maupun digital.

“Mahasiswa jangan berhenti menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta solusi,” menjadi salah satu orientasi yang ditekankan dalam materi. Mahasiswa perlu membaca persoalan masyarakat, merancang solusi berbasis ilmu dan teknologi, mengawal keadilan dan kemanusiaan, menjadi teladan etika digital, menggerakkan pendidikan dan sosial, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.


Dalam konteks kehidupan digital, Mahsun juga mengingatkan pentingnya etika. Mahasiswa perlu saring sebelum sharing dan melakukan tabayun sebelum menyimpulkan. Verifikasi informasi, menghindari fitnah, hoaks dan kebencian, menghormati privasi serta hak cipta, menolak plagiarisme, menggunakan AI secara jujur, menjaga adab dalam berkomentar, dan mengutamakan kemaslahatan menjadi bagian penting dari karakter mahasiswa era digital.


Sementara itu, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd. mengajak mahasiswa baru melihat perjalanan kuliah sebagai proses strategis untuk mempersiapkan masa depan. Menurutnya, disrupsi teknologi dan AI telah mengubah lanskap pekerjaan dengan cepat. Lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi membutuhkan ketahanan, kemampuan belajar sepanjang hayat, serta kompetensi yang relevan dengan perubahan dunia kerja.


Ibda menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu memiliki dua karakter utama: kompetitif dan kolaboratif. Kompetitif berarti mahasiswa memiliki keunggulan spesifik berupa hard skills dan core competence, sekaligus menguasai literasi digital, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Sementara kolaboratif berarti mampu bekerja dalam tim lintas disiplin, budaya, dan latar belakang, disertai kepemimpinan empatik, komunikasi efektif, etika, serta nilai kearifan lokal dan keislaman.


Dalam kerangka tersebut, INISNU mengembangkan integrasi nilai keislaman dan keilmuan. Ilmu agama dan ilmu umum tidak ditempatkan sebagai dua dunia yang terpisah. Ayat-ayat qauliyah dan kauniyah dipahami bersumber dari Tuhan yang sama, kemudian dikembangkan melalui paradigma integrasi-kolaborasi atau takatuful ulum.


Mahasiswa juga dikenalkan dengan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada kompetensi masa depan. Melalui konstruksi capaian pembelajaran dan asesmen autentik, mahasiswa tidak diarahkan sekadar menguasai teori, tetapi harus mampu menunjukkan kompetensi melalui proyek nyata, pemecahan masalah, kerja tim, dan kemampuan profesional.


Salah satu pesan penting Hamidulloh kepada mahasiswa baru adalah pentingnya menentukan kompetensi khusus sebagai nilai jual personal. Mahasiswa perlu mulai melakukan self-assessment, mengenali kekuatan dan kelemahan, menguasai core skill, memperoleh sertifikasi profesi, mengembangkan soft skills dan literasi digital, serta mengumpulkan pengalaman kerja nyata dan portofolio proyek.


Ia juga menekankan pentingnya pengalaman organisasi, keterlibatan dalam aktivitas kolaboratif, pembangunan jejaring profesional, mentorship, eksplorasi jalur karier, pola pikir kewirausahaan, serta personal branding.


“Mahasiswa harus memiliki kompetensi khusus yang menjadi nilai jual. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang sekadar kuliah dan mendapatkan ijazah,” demikian pesan yang ditekankan dalam orientasi materi kuliah umum.


Menurut Ibda, kompetensi harus berjalan bersama jejaring. Dunia profesional membutuhkan kemampuan bekerja dengan orang lain. Karena itu, mahasiswa perlu memperbanyak relasi, membangun kolaborasi, dan memanfaatkan berbagai ruang pengalaman yang tersedia selama menjadi mahasiswa.


INISNU sendiri menyiapkan sejumlah program pendukung, antara lain integrasi Pancadharma dengan dunia usaha dan dunia industri melalui KKN, PPL dan magang, sertifikasi kompetensi, penguatan Halal Center, pendampingan karier, inkubasi bahasa asing dan soft skills, serta penguatan jejaring alumni melalui tracer study dan mentorship.


Kedua materi tersebut bertemu pada satu titik penting: mahasiswa tidak cukup menjadi konsumen informasi dan teknologi, tetapi harus mampu mengubah ilmu menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi perubahan.


Mahsun merumuskan strategi perubahan melalui alur ilmu → gagasan → gerakan → perubahan. Proses itu dimulai dengan membaca persoalan, menganalisis secara kritis, berkolaborasi, berkarya melalui teknologi, kemudian mengabdi kepada masyarakat.


Sementara Ibda menekankan bahwa mahasiswa perlu sejak dini menentukan pilihan dan menyusun strategi. Setelah lulus, mahasiswa dihadapkan pada beragam pilihan: menjadi pekerja profesional, membangun usaha, atau menciptakan lapangan pekerjaan. Yang terpenting adalah membangun kemandirian, memiliki visi, dan tidak hanya menjadi pengikut, tetapi mampu menjadi penggerak, pelopor, dan perintis.


Karena itu, masa kuliah perlu dimanfaatkan secara serius. Mahasiswa didorong memperbanyak pengalaman, mengembangkan keahlian, membangun portofolio, memperluas jaringan, dan terus menghasilkan karya. Pilihan karier tidak harus tunggal; pengalaman, kompetensi, jejaring, dan kemampuan beradaptasi dapat menjadi modal untuk membuka berbagai peluang.


Kuliah umum tersebut memperkuat pesan utama PBAK INISNU Temanggung bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Lebih jauh, mahasiswa memasuki fase pembentukan diri sebagai insan akademik yang harus mampu mengintegrasikan ilmu, karakter, teknologi, tradisi, dan kontribusi sosial.


Mahasiswa baru juga diajak memahami bahwa era digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Teknologi dapat menjadi instrumen pembelajaran, penelitian, kreativitas, dan pengabdian, tetapi penggunaannya harus dikawal etika, integritas, dan nilai Aswaja Annahdliyah.


Pada akhirnya, mahasiswa INISNU diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, adaptif, kompetitif, kolaboratif, dan berdampak. Bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap menciptakan peluang dan memberi manfaat bagi masyarakat.


Sebagaimana pesan penutup materi Mahsun, arah pembentukan mahasiswa INISNU dirangkum dalam semangat: “Berilmu, berkarakter, bergerak, dan memberi manfaat.”


Sementara bagi mahasiswa baru, perjalanan tersebut baru saja dimulai. PBAK menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya akademik; perkuliahan menjadi ruang mengasah kompetensi; organisasi dan jejaring menjadi ruang belajar kolaborasi; sedangkan konsistensi dalam belajar, berkarya, dan mengabdi menjadi bekal untuk meniti masa depan. (*)


Next
This is the most recent post.
Older Post
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Hamidulloh Ibda Jadi Narasumber Kuliah Umum INISNU Temanggung Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda