Temanggung, Hamidullohibda.com — Upaya mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda terus dilakukan melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi. Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU), Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Game Edukasi berbasis Kearifan Lokal Budaya Temanggung yang diselenggarakan pada Rabu (22/4/2026) di ruang pertemuan Kampung Sawah Temanggung. Kegiatan diikui sejumlah akademisi, kepala MI/SD, dan guru-guru SD/MI di wilayah Temanggung.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam merumuskan arah pengembangan game edukasi bertema lokal bertajuk “Gak Kenal”. Game Gak Kenal adalah sebuah inovasi pembelajaran yang dikembangkan oleh Muhammad Fadloli Al Hakim, S.Pd., M.Or., dosen INISNU Temanggung bersama timnya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Temanggung kepada anak-anak, khususnya siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.
Dalam paparannya, Rektor INISNU Hamidulloh Ibda menekankan bahwa pengembangan game edukasi berbasis budaya lokal merupakan kebutuhan mendesak di era digital. Menurutnya, anak-anak saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital, sehingga pendekatan pembelajaran harus mampu menyesuaikan dengan karakteristik generasi masa kini.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi media digital anak-anak saat ini didominasi oleh game, YouTube, dan media sosial, sementara konten edukatif berbasis budaya lokal masih sangat terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang relevan dan kontekstual.
“Game bukan hanya alat hiburan, tetapi dapat menjadi media pembelajaran yang efektif jika dirancang dengan pendekatan edukatif dan berbasis kearifan lokal. Anak-anak dapat belajar sambil bermain, sekaligus mengenal identitas budayanya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan game “Gak Kenal” diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia digital dan kekayaan budaya daerah, sehingga generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi.
FGD ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, praktisi pendidikan, budayawan, hingga pengembang media digital. Diskusi yang berlangsung interaktif membahas berbagai potensi budaya lokal Temanggung yang dapat diangkat menjadi konten edukatif dalam game.
Sejumlah unsur budaya yang menjadi perhatian dalam pengembangan konten meliputi cerita rakyat, permainan tradisional, seni budaya, kuliner khas, serta kearifan lokal masyarakat pedesaan di wilayah Temanggung. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna bagi anak-anak.
Menurut Rektor INISNU, pengenalan budaya lokal sejak usia dini sangat penting dalam membangun karakter dan identitas kebangsaan. Melalui game edukasi, proses pembelajaran dapat dilakukan secara menyenangkan sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah.
“Jika anak-anak tidak dikenalkan budaya sejak dini, maka mereka akan lebih mengenal budaya luar daripada budayanya sendiri. Inilah pentingnya inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, Rektor INISNU juga menyoroti pentingnya memahami karakteristik anak usia sekolah dasar sebagai dasar perancangan game edukasi. Ia menjelaskan bahwa anak-anak pada usia tersebut memiliki kecenderungan belajar melalui visual, permainan, dan pengalaman langsung.
Karena itu, game “Gak Kenal” dirancang dengan pendekatan interaktif yang menekankan unsur visual, cerita, serta tantangan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Selain itu, prinsip pengembangan edugame yang efektif juga dibahas dalam FGD, antara lain integrasi unsur edukatif, penggunaan bahasa yang mudah dipahami anak, serta penyusunan alur cerita yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan FGD menghasilkan sejumlah rekomendasi penting sebagai dasar pengembangan tahap selanjutnya. Beberapa rekomendasi tersebut antara lain perlunya penguatan unsur literasi digital dalam game, integrasi nilai-nilai karakter, serta pemanfaatan teknologi multimedia untuk meningkatkan daya tarik visual.
Peserta juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan game, termasuk melibatkan budayawan lokal untuk memastikan keakuratan konten budaya yang diangkat.
Diskusi yang berlangsung dinamis menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam mendukung pengembangan game edukasi berbasis budaya lokal sebagai media pembelajaran inovatif.
Melalui kegiatan ini, Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung menunjukkan komitmennya dalam mendukung inovasi pendidikan berbasis teknologi dan budaya lokal. Pengembangan game “Gak Kenal” diharapkan tidak hanya menjadi media pembelajaran alternatif, tetapi juga menjadi model inovasi pendidikan yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Rektor INISNU Hamidulloh Ibda menegaskan bahwa masa depan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan teknologi digital. Namun demikian, teknologi harus tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
“Pendidikan masa depan harus mampu memadukan teknologi dan budaya. Game edukasi berbasis kearifan lokal seperti ‘Gak Kenal’ adalah salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut,” pungkasnya.
Dengan terselenggaranya FGD ini, diharapkan pengembangan game “Gak Kenal” dapat berjalan secara sistematis dan menghasilkan produk pembelajaran inovatif yang mampu meningkatkan minat belajar anak sekaligus melestarikan budaya lokal Temanggung. (*)

0 komentar:
Post a Comment