Oleh Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd.
Disampaikan pada Khotbah Jumat 19 Desember 2025 di Masjid Baitul Mujahid, Perumahan Graha Mandiri Residence, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang
Khotbah
Pertama
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ
الْحَـقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ :
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى
اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
وَقَالَ تَعَالَى: ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ
بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Ma’asyiral
muslimin, jemaah Jumat Masjid Baitul Mujahid, rahimakumullah,
Mengawali
khutbah Jumat di siang hari ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan
jemaah semua untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah Swt, dengan
menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan Allah Swt. Sebab, ketakwaan
adalah fondasi keselamatan individu, masyarakat, dan negara.
Hadirin
jemaah Jumat yang berbahagia,
Allah
Swt berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 41,
ظَهَرَ الْفَسَادُ
فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya;
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan
manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Hadirin
jemaah Jumat yang berbahagia,
UU
Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana membagi bencana menjadi tiga:
Bencana Alam, Bencana Non-Alam, dan Bencana Sosial, masing-masing disebabkan
faktor alam (geologi, meteorologi, klimatologi, osenaografi, biologi),
peristiwa non-alam (seperti teknologi, epidemi (penyakit), kesalahan manusia / human
error), dan faktor manusia (konflik, teror, fanatisme buta,
ketidaksetaraan, dan lainnya).
Bencana,
kerusakan, kehancuran menjadi bagian dari kehidupan manusia. Di akhir tahun 2025
ini banyak sekali bencana alam terjadi. Secara nasional, terjadi banjir dan
tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Data
Cevadis Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, mencatat per 1 Januari - 4
Desember 2025, terdapat 524 kejadian bencana alam. Yang paling besar adalah
cuaca ekstrem (222 kali), banjir (163 kali), longsor (107 kali), kebakaran
gedung dan pemukiman (18 kali), kekeringan (9 kali), gempa bumi (2 kali), dan
lainnya. Dalam Majalah Semarang
dalam Angka, Vol 52 2025, di Kota Semarang terjadi 50 bencana
alam, 25 longsor, dan 341 kebakaran.
Jemaah
Jumat rahimakumullah,
Jika
kita bermuhasabah, apakah ini sunnatullah atau akibat dari ulah manusia?
Mari kita kaji perspektif Al-Quran.
Di
dalam Al-Quran, disebutkan sejumlah kata/istilah tentang kehancuran, bencana,
atau kerusakan. Jika dikategorisasi, maka ada dua jenis kehancuran. Pertama,
kehancuran dalam arti sunnatullah (ketentuan Allah), seperti اَلْقَارِعَةُ (Al-Qāri'ah)
/ hari yang menggemparkan (Q.S. Al-Qāri'ah ayat 1-5, اَلْحَاقَّةُ (Al-Hāqqah)
/ hari kebenaran/kiamat (hari yang pasti terjadi) tersebut dalam Q.S. Al-Hāqqah
ayat 1-3. Kemudian, اَلسَّاعَةُ (As-Sā'ah)
/ hari/waktu yang telah ditentukan (kiamat) tersebut dalam Q.S. Al-A'rāfayat
187, يَوْمُ
الْقِيَامَةِ (Yaumul Qiyāmah) / hari kiamat atau hari
kebangkitan, tersebut dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 85, يَوْمُ الزَّلْزَلَةِ (Yaumuz
Zilzalah) / hari kegoncangan, terdapat dalam Q.S. Az-Zalzalah ayat 1-2, dan
هَلَكَ (Halaka)
/ بَانَتْ (Bānat)
/ binasa / akan binasa (semua yang ada), tersebut dalam Q.S. Ar-Raḥmān ayat
26-27.
Kedua,
ketegori kerusakan/kehancuran akibat perbuahan manusia yang mengakibatkan azab. Yaitu عَذَاب ('Azāb)
/ siksaan atau hukuman (yang bisa mendatangkan kehancuran), tersebut dalam Q.S.
Hūd ayat 89, أَهْلَكَ (Ahlaka) / kehancuran, kebinasaan
dalam Q.S. Al-Qasas ayat 58, دَمَّرَ (Dammara)
/ تَدْمِير (Tadmīr)
/ menghancurkan, membinasakan secara total, tersebut dalam Q.S. Al-Furqān ayat
36, ظُلُمَات (Ẓulumāt)
(bentuk jamak dari ẓulmah) yang berarti kegelapan-kegelapan (peteng bahkan
peteng ndedet), tersebut dalam Al-Baqarah Ayat 257, Al-An'ām Ayat 59, Ar-Ra’d
Ayat 16, Ibrāhīm Ayat 1, Al-Aḥzāb Ayat
43, Fāṭir Ayat 20, Al-Ḥadīd Ayat 9, dan Aṭ-Ṭalāq Ayat 11. Kemudian فَسَاد (Fasād)
/ kerusakan, kekacauan, atau perbuatan merusak keseimbangan, tersebut dalam
Q.S. Ar-Rūm ayat 41 yang saya baca di awal khotbah tadi.
Jemaah
Jumat rahimakumullah,
Pakar
pendidikan karaker, Prof Thomas Lickona, dalam buku Educating for Character:
How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (1992), menyebut ada 10
indikator kehancuran suatu bangsa. Pertama, meningkatnya kekerasan
remaja. Kedua, penggunaan bahasa kasar, buruk, umpatan, dan krisis
kesantunan. Ketiga, pengaruh peer group yang negatif. Keempat,
meningkatnya sikap merusak diri (narkoba, seks bebas / kumpul kebo, alkohol). Kelima,
menurunnya etos kerja. Keenam, ketidakjujuran merajalela. Ketujuh,
rendahnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru. Kedelapan, menurunnya
rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Kesembilan, meningkatnya
perilaku merusak lingkungan. Kesepuluh, kemerosotan moral secara
kolektif.
Dari
10 indikator kehancuran itu, kira-kira Indonesia berada pada posisi di mana?
Mari kita bermuhasabah diri.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Lalu,
apa solusi jangka panjangnya? Pertama, membangun moral, akhlakul karimah, dan
karakter (character building) bangsa.
اِنَّ
اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ
اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ
مِنْ وَّالٍ ١١
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada
pelindung bagi mereka selain Dia." (Q.S. Surat Ar-Ra'd Ayat 11).
Kedua,
penguatan pendidikan berbasis nilai, sains, dan teknologi. Dalam sebuah
kitab المعجم
المفهرس لألفاظ القرآن الكريم (Mu’jam Mufahras
li Alfāẓil Qur’ānil Karim) karya Muhammad Fu’ād ‘Abdul Bāqī, disebutkan Al-Qur’an
mengulang kata ilm / ilmun lebih dari 750 kali dari 6.236 ayat, 114
surat, dan 30 juz. Artinya, Allah dalam Al-Quran menyeru umat Islam mencintai
ilmu pengetahuan, sains, teknologi, karena dengan ilmu, hidup menjadi mudah dan
terarah.
Ketiga,
membangun keluarga sebagai benteng pendidikan pertama (madrasatul ula),
utamanya melalui pendidikan keteladanan dari ibu dan bapak pada anak-anaknya. Sebab,
kerusakan bangsa bisa berasal dari lemahnya fondasi keluarga.
Allah
Swt berfirman QS. At-Tahrim: 6
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ
اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah
malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah
terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Keempat,
pemimpin yang adil, berkualitas, berintegritas, dan bertanggungjawab.
Sebagaimana sabda Rasullah Saw:
Artinya:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi
Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam
beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua
orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan
berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang
wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku
takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah
lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan
tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan
sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari No 6.806, dan Muslim No
1.031).
Kelima,
amar ma’ruf nahi munkar. Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran:
110
كُنْتُمْ
خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا
لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
Artinya
”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia
(selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik
bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran: 110).
Keenam,
menjaga lingkungan dan sumber daya alam. Allah sangat
mengecam para perusak lingkungan. Allah Swt berfirman dalam Al-A'raf · Ayat 56
وَلَا
تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ
رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦
Artinya
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.
Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A'raf, Ayat
56)
Ketujuh,
membangun budaya ilmiah dan peradaban disertai tindakan nyata. Rasulullah
Saw adalah teladan nyata yang konsisten mengamalkan terlebih dahulu setiap
ajaran yang beliau sampaikan kepada umatnya. Dakwah beliau bukan sekadar
untaian kata, melainkan tindakan nyata yang bersandar pada ilmu yang otentik
dan dapat dipertanggungjawabkan.
Inilah
yang disebut konsep Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah. Ilmu Amaliah
berarti tiap pengetahuan kitai harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata dan
bermanfaat. Amal Ilmiah berarti tiap amal ibadah mahzah dan muamalah
harus dilandasi oleh ilmu, pengetahuan, dalil, dan pemahaman yang jelas, sehingga tak
sekadar menjadi rutinitas belaka.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Pertanyaannya,
siapa yang akan menjaga manusia dari kerusakan berupa fasad, zulumat, azab,
dari bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial? Tentu adalah diri kita
masing-masing. Semoga kita warga Kelurahan Patemon, Kota Semarang senantiasa
dijaga dan dijauhkan Allah dari segala bentuk bencana, baik bencana alam,
bencana non-alam, bencana sosial, maupun bencana berupa azab.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ
قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ
كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHOTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ،
أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ
اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ
بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ،
إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى
عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

0 komentar:
Post a Comment