Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Saturday 27 October 2012

Angie dan Ancaman Tsunami Senayan


Tulisan ini dimuat di Koran Pagi Wawasan, 19 Oktober 2012.

Saat ini, isu ancaman Angelina Sondakh/Angie untuk membuat “Tsunami Senayan” ramai di media massa. Terlepas benar atau tidak, hal ini menarik untuk dikaji ulang. Pasalnya, fakta baru terkait dengan kasus dugaan suap proyek-proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus terungkap. Indikasi keterlibatan kalangan lebih strategis daripada yang telah dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun semakin menguat.

Dalam persidangan kasus itu di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (11/10), mantan Direktur Pemasaran Grup Permai Mindo Rosalina Manulang bersaksi untuk terdakwa Angelina Sondakh. Rosa mengungkapkan Angie pernah menjenguknya di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, dan mengatakan akan menciptakan “tsunami” di Senayan (Kompas, 12/10).
Dalam konteks itu, Angelina juga menyebut nama Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Dalam BAP itu disebutkan pula bahwa Angelina mengatakan kepada Rosa, “Ini saya juga baru dari rumah Mas Anas. Saya nggak mau dikorbankan sendiri.” Demikian kata Angie yang diberitakan di media massa. Kesaksian Rosa itu menguatkan kesaksian mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai Yulianis dalam persidangan sebelumnya tentang keterlibatan sejumlah nama anggota DPR dalam proyek kongkalikong dengan Grup Permai.
Selain Angelina dari Partai Demokrat, menurut Yulianis, ada I Wayan Koster (PDIP), Aziz Syamsuddin (Golkar), Zulkarnaen Djabar (Golkar), Abdul Kadir Karding (PKB), Said Abdullah (PDIP), Olly Dondokambey (PDIP), dan seorang dari PKS, tetapi Yulianis lupa namanya. Para anggota dewan itu, menurut pengakuan Yulianis, memainkan peran sebagai broker proyek yang ada di mitra komisi masing-masing. Mereka telah membantah dan mengatakan Yulianis menebar fitnah.
Ancam Buat “Tsunami”
Angie mengancam akan membongkar semua praktik “percaloan anggaran” yang melibatkan sejumlah oknum anggota DPR. Angie mengistilahkan ancamannya itu bisa menjadi badai “tsunami” yang akan menghantam kredibilitas DPR. Ancaman terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi pembahasan anggaran di Kemenpora dan Kemendikbud itu disampaikan kepada Rosa.
Kasus Angie memang berujung pelik. Jika diberitakan, maka tak akan pernah habis. Pada persidangan sebelumnya, saat mendengar kesaksian Yulianis, mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, terungkap sejumlah “kaki tangan” perusahan Nazaruddin itu adalah anggota DPR di sejumlah komisi. Dan hingga kini, Rosa masih dibayangi ancaman amat kuat, sehingga perlu “keamanan ekstra” hingga memilih menggunakan rompi antipeluru.
Sementara itu, penyidik KPK kembali melanjutkan penyidikan terhadap kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor. Langkah tersebut harus dilakukan dengan serius untuk memberantas koruptor.
Membantah
Di sisi lain, Angie justru “membantah” mengancam akan melakukan tsunami di DPR jika dikorbankan dalam kasus itu. Angie mengungkapkan itu saat menanggapi keterangan dari Direktur Pemasaran PT Anak Negeri (perusahaan yang tergabung dalam konsorsium Permai Grup) Mindo Rosalina Manulang yang memberi kesaksian di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (11/10).
Angie mengaku tak  ada percakapan yang menyebut saya akan membuat tsunami di DPR. Angie juga membantah seluruh keterangan Rosa. Angie mengelak pernah bertemu Rosa pada Februari 2010. Dia juga membantah menerima uang suap dari mantan anak buah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin demi menggiring pengarahan anggaran proyek di Kemendiknas.
Akan tetapi, Rosa tetap kukuh dengan keterangannya. Rosa mengaku memberi uang Rp15 miliar kepada Angie pada Maret 2010 sampai November 2011 sebagai imbalan dalam penggiringan pembahasan anggaran proyek di Kementerian Pendidikan Nasional. Menurut Rosa, uang itu tak hanya dinikmati Angie, tapi dibagi kepada salah satu anggota Komisi X dari F-PDIP I Wayan Koster. Lebih lanjut, menurut Rosa, Angie mendapat jatah fee 5% dari total anggaran pengadaan laboratorium di beberapa universitas yang turun sebesar Rp610 miliar (Sindo, 12/10).
Kejujuran Angie
Pengungkapan Rosa tentang ancaman Angie berupa tsunami Senayan itu menegaskan kembali dugaan publik bahwa Angie bukan “aktor tunggal” dalam praktik kongkalikong yang melibatkan para wakil rakyat dan para petinggi partai berkuasa. Karena itu, kita perlu mendorong Angelina agar lebih terbuka dan berpihak kepada kebenaran dengan memaparkan apa yang ia ketahui tentang keterlibatan pihak lain dalam kasus korupsi.
Tidak ada gunanya bagi Angie untuk melindungi dan membuat tawar-menawar dengan pihak-pihak merugikan rakyat. Lebih baik, Angiei bersikap lebih kooperatif seperti Rosa dalam pengungkapan kasus itu.
Sebagai mantan anggota Badan Anggaran DPR sekaligus Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Komisi X DPR, Angie sangat mungkin mengetahui dan menyimpan fakta yang dapat membantu KPK menjerat siapa pun terlibat kasus korupsi. Bukan pilihan bijak jika Angie menyembunyikan semua fakta itu dan memilih menanggung sendiri akibat pelanggaran hukum yang juga dilakukan orang lain.
Yang penting Angie harus jujur. Selain itu, KPK juga harus menindaklanjuti pengakuan Rosa itu sebagai petunjuk untuk mendapatkan bukti hukum dalam menjerat tokoh yang berperan jauh lebih sentral daripada Angelina dalam mencuri uang negara. Wallahu a’lam.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Angie dan Ancaman Tsunami Senayan Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda