Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Friday 23 May 2014

MAKALAH PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN PENERAPAN FILSAFAT TERHADAP PEMBANGUNAN PENDIDIKAN


Disusun Hesti Fitriana 0103513045 Hamidullah Ibda 0103513129
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Joko Sutarto, M.Pd, Dr. Khomsun Nurhalim, M.Pd

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Permasalahan pendidikan di Indonesia masih banyak dan beragam yaitu kualitas pendidikan yang masih rendah dan pemerataan pendidikan yang sesuai dengan standar pendidikan nasional masih belum tercapai.  Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.


Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan?
Apa yang dimaksud dengan aliran filsafat pendidikan?
Bagaimana peranan filsafat dalam pembangunan pendidikan?

PEMBAHASAN
Filsafat Pendidikan
John S. Brubacher dalam bukunya yang populer “Modern Philosophies of Education” mengemukakan bahwa filsafat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu pendidikan atau paedagogiek. Terhadap filsafat, maka seni pendidikan harus menantikan suatu pola untuk bertindak. Filsafat tidak akan mewujudkan teorinya menjadi kenyataan, hanya dengan memikirkan teori-teori saja. Seni pendidikan atau mendidik dapat menjadi laboratorium untuk menguji perbedaan pendapat filosofi secara empiris.

Menurut John Dewey filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intekektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju kearah tabiat manusia, maka filsafat dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan.
Seperti yang disampaikan oleh Prof.Dr. Hasan Langgulung (dalam Djumransjah 2006:51-52) filsafat pendidikan merupakan aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai media untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskannya, serta menerapkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapainya. Jadi filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman manusia merupakan tiga elemen dalam satu kesatuan yang utuh.

Filsafat pendidikan dalam kegiatannya secara normatif berfungsi sebagai berikut.
Merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan, konsep hakikat pendidikan dan manusia, dan isi moral pendidikan.
Merumuskan teori, bentuk, dan sistem pendidikan, yang meliputi kepemimpinan, politik kependidikan, pola-pola akulturasi, dan peranan pendidikan dalam pembangunan bangsa dan negara.
Merumuskan hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, dan kebudayaan.

Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran.

Berikut adalah beberapa aliran dalam filsafat pendidikan (Chaedar 2008:23-24) ;
Filsafat Pendidikan Idealisme : memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

Filsafat Pendidikan Realisme : merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

Filsafat Pendidikan Materialisme  : berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.

Filsafat Pendidikan Pragmatisme: dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme: memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.

Filsafat Pendidikan Progresivisme : bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.

Filsafat Pendidikan Esensialisme :  Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

Filsafat Pendidikan Perenialisme : Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan Ortimer Adler.

Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme : merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Peranan Filsafat dalam Pembangunan Pendidikan
Menurut Prof.Rupert.C.Lodge,”In this sense life is education and education is life”. Artinya, seluruh pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Karena, segala pengalaman sepanjang hidup memberikan pengaruh pendidikan bagi seseorang. Maka dapat dipahami bahwa masalah pendidikan memerlukan jawaban secara filosofis. Bidang filsafat pendidikan adalah juga masalah hidup dan kehidupan  manusia. Dengan mengambil pengertian pendidikan secara luas, berarti masalah kependidikan mempunyai ruang lingkup yang luas pula, meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Sehingga otomatis keduanya saling berkaitan dan berkesinambungan satu sama lain. (Djumransyah 2004:43)

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan terdiri dari :
Standar Kompetensi Lulusan
Standar Isi
Standar Proses
Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Standar Sarana dan Prasarana
Standar Pengelolaan
Standar Pembiayaan Pendidikan
Standar Penilaian Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Standar :
Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Penerapan/implementasi filsafat ilmu dalam pendidikan (Ihsan, 2010:6) adalah penerapan filsafat ilmu dalam upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.

Perkembanagan IPTEK membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan social dan kebudayaan umat manusia, yang meliputi beberapa aspek antara lain komunikasi, transportasi, mekanisasi industri, pertanian dan persenjataan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Perkembangan IPTEK di samping banyak menimbulkan perubahan dalam nilai-nilai,baik nilai sosial, budaya, spiritual, intelektual maupun material juga menimbulkan kebutuhan baru, aspirasi baru dan sikap hidup baru.
Hal itu menuntut perubahan pada sistem dan isi pendidikan yang diwujudkan dalam rekonstruksi kurikulum. Mengingat pendidikan bukan hanya mewariskan nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama, tetapi juga mempersiapkan SDM unggul agar mampu hidup pada masa kini dan yang akan datang.

Perkembangan IPTEK secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh terhadap kurikulum pendidikan. Pengaruh langsung dari perkembangan ini adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan.

Pengaruh tidak langsung dari perkembangan IPTEK ini menyebabkan perkembangan masyarakat, yang tentunya menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan masalah dengan pengetahuan dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan. Oleh sebab itu, perlunya usaha-usaha yang terus menerus dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran agar selaras dengan perkembangan zaman.  Usaha-usaha tersebut antara lain meliputi (Mudyahardjo, 2002:97):
Perbaikan kurikulum secara terus menerus dapat di-up date
Isi muatan kurikulum dapat memenuhi kebutuhan stake holders
Isu-isu global perkembangan kontemporer dan nilai-nilai kearifan potensi lokal menjadi basik pendekatan kurikulum
Pengembangan metode pengajaran yang bervariasi
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran

Akibat pengaruh globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, baik dampak yang positif maupun maupun yang negatif. Dampak yang positif salah satunya memberikan kemudahan bagi manusia memenuhi kebutuhannya secara cepat, efektif dan efisien di segala lini aktivitas kehidupan. Sebaliknya dampak negatifnya tak kurang banyak, termasuk di dalamnya sifat ketergantungan manusia olehn kemudahan fasilitas, di samping dampak-dampak lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sosial.

Implikasi nyata dalam dunia pendidikan membawa pengaruh terhadap model pendidikan dimana tuntutan kurikulum dan pengajaran harus selalu up to date, disesuaikan dengan perkembangan yang ada, agar hasil dari pengembangan kurikulum tidak ketinggalan zaman. Kenyataan seperti sebagaimana digambaarkan filsafat progresivisme yang memandang bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh manusia dewasa ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkanberbagai ilmu, baik ilmu-ilmu sosial, budaya, maupun ilmu pengetahuan alam.

Ide-ide sentral pendidikan yang dikembangkan dalam progresivisme ini berkisar pada penerapan dari konsep-konsep rasionalitas, kebebasan dan kesamaan. Pendidikan adalah distribusi demokratis dan rasionalitas dengan perlakuan yang seimbang (kewajiban dan hak) antara kebebasan dan kesamaan pada subjek didik. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Barnadib bahwa menurut teori SDM, suasana pendidikan (kurikulum dan aspek-aspek pembelajaran) mengikuti konsep pendidikan yang berpusat pada siswa dan mengutamakan perhatiannya ke masa depan daripada masa lalu, yaitu tuntutan untuk survive mengikuti perkembangan zaman, terutamanya perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan teknologi.

PENUTUP
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan sesuatu yang abstrak,  ia menjadi induk dari semua ilmu. Jika ada pertanyaan tentang penerapan peran filsafat dalam pendidikan, maka sesungguhnya filsafat itu mendasari semua ilmu yang dikaji dalam pendidikan, misalnya ekonomi, sosiologi, matematika, dan sebagainya.

Pendidikan merupakan suatu sistem yang dalam pelaksanaannya, perlu menggunakan filsafat sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. Filsafat tersebut digunakan sebagai nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari, dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat  Bahasa dan Pendidikan. Bandung: UPI
Badan Standar Nasional Pendidikan (http://www.bnsp-indonesia.org)
Diakses 18 September 2013
Djumransyah. 2004. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing
Ihsan, Fuad. 2010.  Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta
Mudyahardjo, Redja. 2002  Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: ROSDA
Rachman, Maman.2008. Filsafat Ilmu. Semarang: UNNES Press

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: MAKALAH PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN PENERAPAN FILSAFAT TERHADAP PEMBANGUNAN PENDIDIKAN Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda