Latest News

Ingin bisa menulis? Silakan ikuti program training menulis cepat yang dipandu langsung oleh dosen, penulis buku, peneliti, wartawan, guru. Silakan hubungi 08562674799 atau klik DI SINI

Wednesday 7 May 2014

Guru Ideal Vs Guru Killer


Oleh Hamidulloh Ibda
Pendiri dan Guru SMARTA School Semarang, Peneliti Pendidikan Dasar pada Pascasarjana Universitas Negeri Semarang


Menjadi guru tidak bisa “main-main” dan “asal-asalan”. Meskipun guru les, privat dan tutor di bimbel, mereka juga tidak boleh sembarangan. Selama ini masih banyak guru “setengah hati” dan posisi tersebut hanya menjadi “pelarian” ketika tidak mendapat pekerjaan. Akibatnya, karena perekrutan asal-asalan dan tidak selektif sesuai kualifikasi akademik, maka lahirlah guru killer dan sering disebut guru “abal-abal”.

Guru killer rata-rata tidak memiliki “dialektika pembelajaran” yang baik dan benar. Padahal, rata-rata guru saat ini berstatus sarjana, bahkan sudah banyak bergelar magister. Meskipun sarjana, namun tidak berlatar belakang kependidikan/keguruan, maka mereka miskin spirit mendidik dan akhirnya berdampak buruk bagi pelajar. Jika galak, maka akan melahirkan siswa yang kasar, angkuh dan tak heran jika muncul kekerasan antarsiswa tak lama ini.

Guru yang baik selalu menciptakan kegembiraan bagi siswanya. Mereka disayang, terbuka, menjadi teladan dan selalu dirindukan kedatangannya. Inilah sosok guru ideal yang harus ada di alam pendidikan Indonesia. Prof Dr Suparmin Dandan Supratman, M.Pd (2014) menyatakan dalam teori pendidikan klasik dan modern juga masih menempatkan guru sebagai faktor utama dan mercusuar kemajuan pendidikan.

Guru Killer
Istilah killer saat ini tidak hanya melekat pada dosen, namun bagi guru galak juga disebut killer. Mereka selalu memberikan tugas sekolah melebihi kemampuan siswa, susah diajak curhat, mengajar tanpa hati dan pelit memberikan nilai.

Guru killer artinya menyembelih kesempatan anak-anak untuk berkembang. Guru seperti inilah, cara mengajarnya merusak mental pelajar. Selain pemarah, mereka sering memaki, tidak murah senyum dan selalu menyalahkan siswa. Atmosfer pembelajaran guru killer selalu tegang, siswa panik dan tak nyaman belajar. Padahal, ibarat mobil, guru adalah sopirnya, sedangkan siswa penumpangnya. Jadi, mau dibawa ke mana siswa tersebut ada di genggaman guru. 

Guru merupakan kunci kemajuan pendidikan. Tanpa adanya guru cerdas, mampu menciptakan kegembiraan, maka rusaklah mental siswa dan hancurlah pendidikan kita. Setiap saat, guru harus menyenangkan dan “dilarang membosankan”.

Dr Subyantoro, MHum (2014) menyatakan ketika murid nyaman, maka ia akan berada pada puncak emas, saat itulah spirit belajarnya tumbuh. Sel-sel otak yang awalnya stagnan akan bangkit jika dalam pembelajaran siswa selalu nyaman dan bahagia. Bahkan, siswa tidak normal bisa kembali normal jika gurunya menyenangkan.

Guru harus cerdas, jika tidak cerdas dan ideal, maka “tidak pantas” dinamakan guru. Jika guru killer, kaku, kejam dan galak, mereka tidak lagi “digugu” dan “ditiru”, melainkan menjadi “wagu” dan “saru” di mata siswa bahkan masyarakat.

Sebagai sopir di dalam kelas, guru killer sangat ditakuti, menjadikan siswa rajin bolos, tugas sekolah diabaikan dan kehadirannya tidak diinginkan siswa. Bahkan mendengar suara sepatunya saja, para siswa sudah ketakutan. Guru seperti ini tidak mungkin bisa mengantarkan siswa kepada tujuan pendidikan, bahkan hanya menjadi “perusak” mental siswa dan menghambat kemajuan pendidikan.

Di dalam kamus pendidikan, pembunuhan mental/karakter lebih kejam daripada menghilangkan nyawa manusia. Guru seperti ini justru sangat berbahaya jika mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK). Jangankan mengajar ABK, mengajar siswa normal saja tidak bisa. Itulah gambaran guru killer yang merusak mental siswa sekaligus memperlambat kemajuan pendidikan. Maka, embrio guru killer harus diputus, ke depan harus ada perbaikan sistem dari sekolah sampai ke tingkat kementerian. Karena guru killer merupakan musuh pendidikan.

Guru Ideal
Guru ideal pekerjaannya tidak sekadar “mengajar” namun juga “mendidik” siswanya. Meskipun mereka bukan bapak/ibu biologis bagi siswa, namun mereka mampu menjadi “orang tua ideologis” bagi siswa. Guru ideal merupakan kebalikan dari guru killer. Profil pendidik seperti ini mengajar dengan hati, bukan sekadar dengan emosi. Guru ideal mampu menata pola pikir siswa, bukan sekadar meraup ilmu sebanyaknya.

Munif Chatib (2011) dalam buku Gurunya Manusia menjelaskan guru adalah pendidik, pengajar dan fasilitator bagi para murid. Guru menjadi sangat urgen dalam dunia pendidikan. Salah satu faktor keberhasilan pendidikan ditentukan guru. Namun, saat ini rata-rata guru hanya menjadi “pengajar” dan belum sepenuhnya menjadi “pendidik”. 

Pendidik dan pengajar sangat berbeda jauh, jika hanya mengajar, yang lahir hanya generasi cerdas tak bermoral. Namun jika guru menjadi pendidik sepenuhnya, maka akan lahir generasi cerdas dan bermoral. Itulah yang diharapkan dari kurikulum 2013 yang memiliki empat poin. Meliputi kompetensi inti 1 (KI 1) yang berisi tentang nilai religius, KI 2 memiliki nilai sosial kemanusian, KI 3 berisi pengetahuan dan KI 4 berisi proses pembelajaran.

Guru ideal juga selalu up date pembaharuan dan isu-isu pendidikan. Jangankan memahami substansi kurikulum 2013, tentang perbedaan metode, model, pendekatan, strategi pembelajaran saja tidak tahu jika guru itu abal-abal.

Untuk melahirkan dan menciptakan guru ideal perlu solusi jangka panjang dan pendek. Pertama; pemerintah/Kemendikbud harus membuat regulasi jelas perekrutan guru. Hal ini sudah tercermin pada kebijakan baru yaitu “gelar Gr” (guru profesional) yang tak lama ini diwacanakan. Artinya, meskipun sudah sarjana, semua calon guru harus mengikuti pendidikan profesi guru (PPG). Namun bagi sekolah swasta, mereka harus memperketat perekrutannya, jangan sampai ada guru tidak linier, seperti sarjana ekonomi mengajar bilogi, lulusan PGSD mengajar SMA dan sebagainya.

Kedua; sesuai UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) Pasal 69 (ayat 2), disebutkan empat kompetensi yang wajib dimiliki guru, yaitu kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional. Saat ini banyak guru sudah memenuhi 4 kompetensi tersebut dan menguasai 8 keterampilan mengajar, namun dalam praktiknya mereka masih “kuno” dan tidak “modern” dalam mengajar.

Ketiga; guru ideal adalah mereka yang mengajar dengan cinta dan tidak sekadar “menyampaikan materi”, namun mereka selalu mendidik, membimbing dan mengarahkan siswa ke arah perbaikan. Inilah prinsip pedagogi yang sudah diajarkan sejak dulu. Jika guru saat ini tidak memahami prinsip tersebut, maka sama saja guru-guru itu “kembali” pada zaman dulu.

Keempat; guru harus selalu memberikan motivasi, perhatian dan hadiah kepada guru. Tiga prinsip untuk terlaksananya perilaku secara psikologis terbagi 3. Pertama, peranan hadiah ini bisa sebagai pemuas. Kedua, hukuman sebagai pengganggu. Ketiga, peranan latihan untuk refleksi perubahan.

Kelima; guru ideal mengetahui dan memprediksi hasil belajar siswa, meskipun pembelajaran baru berjalan 1 kali pertemuan. Guru ideal juga mendidik sekaligus memberikan perhatian dan motivasi kepada peserta didik. Karena dalam kehidupan, tidak ada manusia yang kuat hidup “tanpa perhatian”.

Keenam; untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru harus mampu memanajemen stimulus dan respon. Artinya, jika guru tidak mampu menyeimbangkan stimulus dan respon di dalam kelas, maka siswa pasti “asal-asalan” dan kondisi kelas pasti gaduh dan tujuan pembelajaran tidak tercapai. John B Watson (1878-1958) dalam kajian behaviorisme menyatakan bahwa kesuksesan belajar sangat dipengaruhi proses stimulus respon yang baik.

Ketujuh, solusi yang mendasar adalah menegakkan konstitusi sesuai UUGD. Artinya, bagi calon guru harus menjalankan prosedur dan syarat menjadi guru. Bagi yang sudah terlanjur menjadi guru, mereka harus senantiasa meningkatkan kualitas lewat berbagai pelatihan. Karena hakikatnya, menjadi guru itu juga menjadi siswa yang harus belajar setiap waktu.

Sudah saatnya guru ideal dan dilarang killler. Karena guru menjadi sopir dalam pendidikan. Apakah Anda mau menjadi guru killer? Jika bisa menjadi guru ideal, mengapa harus killer?

Tulisan ini dimuat di Koran Pagi Wawasan, Rabu 7 Mei 2014
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

Item Reviewed: Guru Ideal Vs Guru Killer Rating: 5 Reviewed By: Hamidulloh Ibda